ads here

Saya Mengapa? Kamu Siapa?

advertise here


Saya mengapa? Kamu siapa? Adalah kalimat yang pas untuk seseorang yang sedang bimbang menghadapi kebencian yang tak beralasan dari orang lain.

Tidak melakukan apa-apa namun seakan dibenci oleh sekelompok orang. Atau lebih tepatnya dipermainkan. Oke ini bukanlah perihal curhat.

Memiliki haters atau pembenci bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan terlebih jika kita bukanlah seorang selebriti.

Bukan hal yang mudah menerima kebencian dari orang yang tidak begitu kita kenal, orang yang sepintas kita lihat, orang yang sekedar kita temui dalam waktu singkat.

Mungkin saja harusnya kita melakukan yang terbaik dari apa yang telah kita lakukan. Hingga tak mengundang kebencian dari orang lain.  Masalahnya apa kita sanggup terus mengikuti kehendak orang lain? Beberapa mungkin bisa. Tapi itu sama saja dengan di perbudak.

Jika mereka benar-benar berpikir harusnya mereka bisa lebih realistis sedikit ketika memilih untuk menjadikan orang lain sebagai objek kebencian.

Membicarakan sesorang yang tidak memiliki potensi untuk mengancam kita dalam artian lemah sama saja dengan tindakan pengecut.

Menebar cerita dan menambahi cerita mengenai seseorang, sedangkan yang menjadi topik cerita malah santai-santai. Bukankah itu sama saja dengan buang-buang waktu. Akan lebih baik jika waktu lowong itu digunakan untuk memikirkan diri sendiri daripada mengurusi orang lain.

Dan mereka yang menjadi korban hanya diam karena mereka sadar jika tak ada gunanya meladeni omongan sampah dari orang yang sekedar tahu siapa namanya dan tanpa sengau berpapasan saat melewati jalan yang sama.

Saya mengapa? Kamu siapa?

Saya terbangun kamu langsung muncul. Pokoknya tidak ada seorangpun di dunia ini yang senang jika dijadikan objek. Meski diam saja bukan berarti dia tidak apa-apa. Dia hanya sadar, percuma meladeni orang-orang yang hanya berani jika berkomplot.

Percuma meladeni sekelompok orang yang bisa bersama karena suka mengusik orang lain.

Sewaktu sekolah di SMA dulu saya mengenal seorang gadis yang kebetulan tinggal di kelas yang sama dengan saya. Dia termasuk orang yang supel dan ramah, dia juga lumayan manis. Saya sering memerhatikan dia. Hampir setiap hari dia mendapat Billung dari teman sekelas lainnya. Baik laki-laki maupun yang perempuan. Jika yang perempuan hanya menunjukkan rasa tidak suka hanya dengan kata-kata maka yang laki-laki lain lagi, mereka Bisa berteriak dan berbuat kasar. Untungnya dia orang yang tangguh. Jadi dia bisa melewati semua gangguan selama di sekolah.

Masalahnya yang seperti teman saya ini mungkin juga ada di luaran sana. Dan tidak semua orang sanggup menghadapi kebencian yang tidak beralasan.
BERIKAN KOMENTAR ()